Rabu, 08 Agustus 2012

aroma mu, tiba-tiba


dan sepi yang menggenang di sudut mataku membanjir di tengah kota.
membisiki jiwa yang tiba-tiba sunyi untuk ikut basah.
kau terlihat merendam kepala di sela - sela bangunan tua. hatimu ikut basah.

bahwa sepiku itu merusak siri'mu. aku tak peduli. tak pernah.

sejenak menutup mata, kita telah saling melupakan, dan lelahku yang memaksa untuk mencari-cari aroma tubuhmu : mungkin ada di selokan, mungkin tersangkut di ranting pohon, mungkin nihil.
tak apa, setidaknya saat sepi lain mengepung arahku, kau bisa tiba-tiba ku baui.
mungkin bau tanah, mungkin bau anyir darah, mungkin jua kudapati aroma tubuhmu.
bau yang melekat di bibirku,
setelah riuhku perkosa seluruh sunyimu.



aromamu, tiba-tiba.
makassar, 28 januari 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar